Negara di Antara Ledakan (cerpen sci-fi)
Mereka menyebut negerinya zona penyangga . Tempat yang tidak memilih pihak, namun selalu menerima akibat. Saat langit berubah putih—bukan biru, bukan hitam—Aru sedang menghitung baut di lantai pabrik kosong. Ia baru berusia delapan tahun. Angka adalah satu-satunya hal yang tidak berubah sejak ayahnya menghilang dan ibunya berhenti bernyanyi. Ledakan itu tidak terdengar seperti film. Tidak ada suara. Hanya cahaya yang menghapus bayangan . Ketika dunia kembali memiliki warna, pabrik itu runtuh sebagian, dan kota di kejauhan menjadi siluet yang meleleh. Aru tidak berlari. Ia berdiri, memegang baut terakhir, menunggu sesuatu yang tidak datang. Orang-orang dewasa selalu berkata: “Jika terjadi apa-apa, bersembunyilah.” Aru bersembunyi—di antara logam, debu, dan jam yang berhenti berdetak. Negara penyangga tidak punya sirene yang cukup. Tidak punya bunker yang layak. Tidak punya nama yang akan diingat. Yang tersisa hanyalah anak-anak yang terlalu cepat dewasa . Aru berjalan...


