Negara di Antara Ledakan (cerpen sci-fi)

 Mereka menyebut negerinya zona penyangga.

Tempat yang tidak memilih pihak, namun selalu menerima akibat.

Saat langit berubah putih—bukan biru, bukan hitam—Aru sedang menghitung baut di lantai pabrik kosong. Ia baru berusia delapan tahun. Angka adalah satu-satunya hal yang tidak berubah sejak ayahnya menghilang dan ibunya berhenti bernyanyi.

Ledakan itu tidak terdengar seperti film.
Tidak ada suara.
Hanya cahaya yang menghapus bayangan.

Ketika dunia kembali memiliki warna, pabrik itu runtuh sebagian, dan kota di kejauhan menjadi siluet yang meleleh. Aru tidak berlari. Ia berdiri, memegang baut terakhir, menunggu sesuatu yang tidak datang.

Orang-orang dewasa selalu berkata: “Jika terjadi apa-apa, bersembunyilah.”
Aru bersembunyi—di antara logam, debu, dan jam yang berhenti berdetak.


Negara penyangga tidak punya sirene yang cukup.
Tidak punya bunker yang layak.
Tidak punya nama yang akan diingat.

Yang tersisa hanyalah anak-anak yang terlalu cepat dewasa.

Aru berjalan tiga hari menuju sungai yang kini berwarna susu. Ia minum sedikit, seperti diajarkan. Tubuhnya belajar menolak lapar, seperti belajar bahasa baru. Ia menemukan radio kecil yang masih menyala, memutar suara statis—kadang terdengar potongan pidato dari negeri yang tidak pernah ia kunjungi.

“Ini untuk stabilitas,” kata suara itu.
Aru tidak tahu apa itu stabilitas.
Ia tahu bertahan.


Di minggu kedua, hujan turun ke atas tanah yang berkilau. Aru berlindung di terowongan lama. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang senyap—mereka yang selamat, namun tidak lagi berbicara. Setiap orang membawa sesuatu yang tak kasatmata: kehilangan yang terlalu berat untuk dijelaskan.

Seorang perempuan memberinya gelang pengukur radiasi. Lampunya berkedip pelan.
“Jika merah,” katanya lirih, “jangan tidur lama.”

Aru mengangguk. Ia sudah lama tidak tidur lama.


Tahun berlalu tanpa kalender. Negara penyangga menjadi ruang di antara—tidak hancur total, tidak pula pulih. Tanahnya menumbuhkan tanaman baru yang menyala samar di malam hari. Aru belajar bercocok tanam dengan cahaya. Ia belajar menyaring air dengan pasir dan arang. Ia belajar membaca peta dari ingatan, bukan kertas.

Anak-anak lain berkumpul di sekelilingnya. Mereka memilih Aru bukan karena ia kuat, melainkan karena ia tenang. Ia menghitung. Ia mengingat. Ia tidak berjanji apa-apa.

Di dunia setelah ledakan, itu cukup.


Suatu malam, drone melintas—tanpa tanda, tanpa bendera. Ia memindai tanah, memotret wajah-wajah kecil yang kini lebih tua dari usia mereka. Tidak ada yang melambaikan tangan. Tidak ada yang berteriak.

Aru menatap cahaya drone sampai hilang.
“Apakah mereka akan kembali?” tanya seorang anak.

Aru menggeleng. “Mereka tidak datang untuk kembali. Mereka datang untuk mencatat.”

Anak itu bertanya lagi, “Apakah kita penting?”

Aru berpikir lama. Lalu menjawab, “Kita penting bagi kita.”


Ketika dunia luar mulai menulis ulang peta, negara penyangga tetap kosong di lembaran. Tidak ada monumen. Tidak ada perjanjian damai yang menyebut nama mereka. Namun di antara reruntuhan, anak-anak membangun sekolah dari beton retak dan papan bekas. Mereka belajar sains dari bintang yang tampak lebih dekat, dan etika dari apa yang tidak ingin mereka ulangi.

Aru, kini beranjak remaja, menanam pohon yang akarnya menahan tanah beracun. Ia menulis di dinding terowongan:

“Kami tidak memilih perang. Kami memilih hidup.”

Tulisan itu pudar oleh waktu, tapi tidak oleh ingatan.


Bertahun-tahun kemudian, ketika para penjelajah akhirnya datang membawa peta baru, mereka menemukan sebuah komunitas yang tidak tercatat. Anak-anak—yang kini dewasa—menyambut tanpa dendam, tanpa syarat. Mereka tidak meminta maaf, karena tidak ada yang harus dimaafkan dari mereka.

Aru berdiri di tepi sungai yang mulai jernih. Ia melepas gelang yang lampunya telah lama padam.
Dunia masih berbahaya.
Namun negeri di antara itu telah belajar satu hal:

Di tempat yang dijadikan perisai oleh kekuatan besar,
yang bertahan bukanlah yang paling kuat,
melainkan yang paling setia menjaga kehidupan kecil.

Dan di sanalah, di antara ledakan yang tak pernah mereka pilih,
masa depan diam-diam tumbuh.

Komentar

Postingan Populer