Agar Fokus Ibadah (Puisi)
Aku bekerja
sebelum namaku dikenal,
dan tetap bekerja
saat namaku tak lagi disebut.
Gudang yang rapi
tidak pernah bertepuk tangan,
stok yang aman
tidak pernah memberi pujian.
Ia hanya diam—
seperti aku.
Tiga tahun
aku berdiri di antara aturan
dan bisik-bisik,
menjaga yang seharusnya lurus
agar tidak dibengkokkan oleh alasan.
Lalu datang tuduhan
tanpa pintu,
tanpa wajah,
tanpa meja klarifikasi.
Padahal aku hanya menjalankan
surat tugas
yang tidak pernah dibaca,
mencari sponsor
untuk sebuah acara
yang kelak
tak lagi mengingat namaku.
“Agar fokus ibadah,”
katamu—
kalimat suci
yang terasa rapi
untuk menyingkirkan seseorang
tanpa harus membuktikan apa pun.
Aku berangkat
menjadi pelayan jamaah,
membawa amanah
dan pertanyaan
dalam satu tas yang sama.
Di tanah suci
tidak ada fitnah,
hanya niat
yang berdiri sendirian
tanpa jabatan.
Aku pulang
tanpa posisi,
tanpa penjelasan,
namun dengan satu hal
yang tidak kau ambil:
cara bekerjaku
yang tetap sama
meski tidak lagi diawasi.
Karena jabatan
bisa dicabut,
nama
bisa diganti,
tetapi
niat yang lurus
tidak bisa difitnah.
Aku tidak kalah.
Aku hanya selesai
berdebat dengan sistem
yang tidak pernah berniat
mendengarkan.
Dan jika suatu hari
kau bertanya
mengapa semuanya kembali berantakan—
ingatlah,
aku pernah di sana,
bekerja diam-diam,
tanpa perlu dipercaya
untuk tetap benar.

Komentar
Posting Komentar