Agar Fokus Ibadah (Sebuah Kesaksian)
Saya menulis ini bukan untuk membela diri dengan emosi, tetapi untuk meninggalkan catatan yang jujur.
Karena ada peristiwa yang, jika dibiarkan diam, akan selalu ditafsirkan sepihak.
Saya memulai karier sebagai apoteker dengan satu prinsip sederhana: bekerja benar, menyelesaikan tanggung jawab, dan tidak merugikan pasien. Tidak ada ambisi jabatan. Tidak ada kepentingan politik. Yang ada hanya pekerjaan yang harus diselesaikan dengan rapi.
Seiring waktu, sistem yang saya kelola mulai berjalan. Gudang obat tertib, stok lebih terkontrol, keluhan menurun, dan alur pelayanan membaik. Tanpa saya minta, saya dipercaya menjadi Kepala Seksi Penunjang Medis. Saya menerima jabatan itu bukan sebagai prestise, tetapi sebagai amanah agar apa yang sudah dibenahi tidak kembali rusak.
Selama tiga tahun saya menjalankan tugas tersebut tanpa catatan pelanggaran, tanpa surat peringatan, dan tanpa evaluasi kinerja negatif. Jika ada kekurangan, saya siap dievaluasi secara terbuka. Namun yang terjadi kemudian bukan evaluasi, melainkan prasangka.
Pada suatu waktu, saya mendapat tuduhan melakukan pemerasan. Tuduhan itu tidak pernah disampaikan secara resmi kepada saya untuk diklarifikasi. Padahal pada saat yang sama, saya memegang surat tugas resmi untuk mencari sponsor kegiatan Gathering. Tugas tersebut diketahui dan diberikan dalam konteks kegiatan institusi, bukan kepentingan pribadi.
Tidak ada pemeriksaan dokumen.
Tidak ada forum klarifikasi.
Yang ada hanya cerita yang beredar dan berkembang tanpa konfirmasi.
Saya tidak pernah dipanggil untuk menjelaskan. Saya tidak pernah diminta menunjukkan surat tugas tersebut. Tuduhan itu dibiarkan hidup sendiri, seolah kebenaran tidak lagi membutuhkan bukti.
Beberapa waktu setelah itu, saya dipanggil dan diberi tahu bahwa saya diturunkan dari jabatan. Alasan yang disampaikan terdengar baik dan aman:
“Agar fokus menjalani proses ibadah.”
Pada saat itu saya memang sedang ditugaskan sebagai Petugas Haji Daerah tahun 2024, Kloter KJT 24. Tugas yang saya terima dengan penuh tanggung jawab, kebanggaan, dan kesiapan. Saya tidak pernah mengajukan permohonan pelepasan jabatan. Saya tidak pernah menyatakan ketidaksanggupan menjalankan dua amanah tersebut.
Namun keputusan sudah diambil. Tidak disertai surat kesalahan. Tidak ada penilaian kinerja. Tidak ada alasan yang dapat diuji secara objektif.
Saya diturunkan tanpa penjelasan yang jelas, dan tanpa kesempatan membela diri.
Saya berangkat menjalankan tugas haji dengan hati yang sudah lebih dulu diuji. Di sana, saya belajar bahwa ibadah tidak selalu tentang ritual, tetapi tentang menjaga niat saat diperlakukan tidak adil. Saya memilih menyelesaikan amanah itu dengan sebaik-baiknya, tanpa membawa amarah ke tanah suci.
Sepulang dari tugas, jabatan itu tidak kembali. Seolah tiga tahun pengabdian dapat dihapus begitu saja oleh satu narasi yang tidak pernah diuji.
Saya tetap bekerja sebagai apoteker. Dengan cara yang sama. Dengan komitmen yang sama. Karena saya percaya, integritas tidak ditentukan oleh posisi, melainkan oleh cara seseorang bekerja ketika tidak lagi diawasi atau dipuji.
Saya menulis kesaksian ini bukan untuk meminta jabatan kembali.
Saya menulis ini agar jelas bahwa saya tidak pernah diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa tuduhan itu salah, karena memang tidak pernah ada proses pembuktian.
Dalam sistem apa pun, keputusan tanpa pemeriksaan bukanlah keadilan, melainkan kenyamanan sepihak. Dan orang yang disingkirkan tanpa alasan yang jelas akan selalu diposisikan sebagai “masalah”, meskipun tidak pernah dibuktikan bersalah.
Saya tidak menuntut pengakuan.
Saya hanya mencatat.
Karena suatu hari, ketika cerita beredar tanpa dokumen,
catatan ini akan menjadi satu-satunya hal yang masih berdiri di sisi kebenaran.
untuk ibu yang telah mengangkat, membentuk, dan membuangku. terimakasih atas bimbinganmu selama ini.
salam hormat saya.

Komentar
Posting Komentar